Memperbaiki Politik Bahasa

Salah satu berita mengejutkan bagi banyak kalangan adalah tingginya angka ketidaklulusan Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) tahun 2010 yang salah satunya diakibatkan oleh pelajaran Bahasa Indonesia, bahasa resmi yang mestinya menjadi kebanggaan untuk mengembangkannya. Berdasarkan data Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas, dari total keseluruhan peserta UN SMA/MA sebanyak 1.522.162 siswa, terdapat 154.079 siswa harus mengulang.

Realitas demikian setidaknya bertolakbelakang dengan semakin diterimanya Bahasa Indonesia sebagai pelajaran asing di Australia dan Rusia, sedangkan di negara kelahirannya mengalami keprihatinan. Hubungan “diplomatik bahasa” tersebut pada akhirnya akan menjawab ada tidaknya proses imperialisasi dalam perkembangan Bahasa Indonesia, dan tentunya semakin membuat tersingkirnya hegemoni rezim bahasa yang tidak mengapresiasi proses kreatif berbahasa.

Keterbukaan bahasa Indonesia yang diakui oleh para pakar sebagai asal kelahirannya, justru kini mengalami perubahan makna. Kepungan bahasa-bahasa dari berbagai negara dan daerah lokal Indonesia justru dimaknai sebagai proses pengrusakan bahasa. Padahal, Bahasa Indonesia lahir memang melalui banyaknya impor kata-kata baru. Melihat proses penerimaan bangsa Australia untuk mempelajari Bahasa Indonesia di negerinya, tentu akan menjadi momentum perkembangan baru bahasa Indonesia dalam proses adopsi bahasa asing.

Bahasa Indonesia dalam proses kelahirannya merupakan bahasa yang terbuka dan terlahir melalui proses kreatif. Secara aklamasi bahasa tersebut berasal dari bahasa Melayu yang telah berproses melalui interaksi global di zaman kemajuan pelayaran abad pertengahan. Setidaknya dapat disebut bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sengaja dilahirkan dari proses kreatif masyarakatnya yang telah intens menerima pergaulan global antarnegara dengan bahasa pengantar yang diperoleh dalam lingkup Internasional.

Fakta demikian dapat difahami dari tulisan Alfred Russel Wallace dalam Malay Archipelago dan Jan Huyghen van Linschoten dalam Itinerario bahwa Malaka yang berada di semenanjung Sumatera merupakan kawasan berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Untuk itu, bahasa yang berkembang adalah hasil adopsi kata-kata dari segala bahasa. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa telah menyusun kata-kata adopsi tersebut, yaitu Belanda 3.280 kata, Inggris 1.610 kata, Arab 1.495 kata, Sansekerta 677 kata, Tionghoa 290 kata, Portugis 131 kata, Tamil 83 kata, Parsi 63 kata, dan Hindi 7 kata. Tentu masih banyak kata yang belum terekspos karena sudah melebur sebagai bahasa tradisi masyarakat.

Globalisasi merupakan momentum untuk pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang terbuka dan adaptif terhadap bahasa lain, bukan sebagai kekalahan bahasa Indonesia dalam interaksi sosial. Proses kreatif untuk melanjutkan gerakan impor kata mestinya bukan diartikan sebagai proses pembusukan terhadap bahasa Indonesia sebagai bagian dari jati diri bangsa. Hal itu sangat tidak masuk akal, tak lain karena mengandung cacat kenyataan berupa pengingkaran terhadap proses kelahiran bahasa Indonesia sebagai identitas bahasa baru yang dimulai dengan impor bahasa.

Tetapi itulah kenyataan pengingkaran bahasa Indonesia sebagai bahasa yang terbuka karena terpengaruhi oleh kesadaran tidak kreatifnya pengawal kebijakan kebahasaan. Kini, ketika usia kelahiran bahasa Indonesia sejak diikrarkan sebagai bahasa persatuan sudah mencapai 81 tahun, refleksi kreativitas justru terpasung dengan “menuduh” bahasa asing sebagai virus atas sakitnya Bahasa Indonesia. Dan parahnya, penentu politik kebijakan kebahasaan yang diperankan oleh Pusat Bahasa hanya menghadirkan solusi pragmatis berupa lahirnya UU kebahasaan, yang digabung dengan aturan penggunaan bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan.

Lahirnya UU Nomor 24 tahun 2009 tentang penggunaan bendera, bahasa, lambang negara, dan lagu kebangsaan yang disahkan pada 9 Juli 2009 secara konsep setidaknya ingin menciptakan ketertiban serta standardisasi penggunaan bahasa sebagai simbol kedaualatan nasional. Namun konstitusionalisasi Bahasa Indonesia ini tidak konsisten dengan hampanya aturan mengenai larangan serta pidana atas penyelewengan bahasa. Sehingga keberadaan UU dengan 9 Bab dan 74 pasal ini tidak memberi langkah praktis pengembangan Bahasa Indonesia, bahkan tetap saja menjadikannya terbengkalai.

Kesan terbengkalainya Bahasa indonesia pada dasarnya bermula dari proses pendidikan yang berlangsung. Selama ini pengembangan kebahasaan selalu ditimpakan pada lembaga pendidikan yang terbatas mengajarkan tentang tata bahasa. Dan memang dari lembaga inilah Bahasa Indonesia mengalami kemunduran karena proses pembelajaran yang diperkenalkan terbatas pada ejaan yang dibakukan atau yang tercantum dalam kamus-kamus resmi. Padahal, ejaan baku yang telah disempurnakan dan diresmikan penggunaannya pada 16 Agustus 1972 terkesan stagnan bahkan konservatif sehingga pelajaran bahasa Indonesia menjadi momok bagi peserta didik dan ditinggalkan karena tidak populer.

Untuk itu, penyakit memudarnya kebanggaan serta kesetiaan berbahasa Indonesia terletak pada hilangnya pedoman berbahasa yang baik namun tetap mengadopsi aspek kreativitas masyarakat. Pusat Bahasa sebagai instansi yang berwenang pada kebijakan kebahasaan, selama ini seolah mati suri sehingga belum mampu menghadirkan terobosan atas konservatifnya ejaan baku. Inilah yang kemudian menyebabkan kalangan pelajar sebagai generasi muda pelanjut dan penutur langsung, memilih untuk mengesampingkan Bahasa Indonesia.

Kini, momentum pergantian tahun setidaknya menjadi dentum penantian segera digelarnya Ujian Nasional bagi peserta didik secara keseluruhan di Indonesia. Dan kenangan hancurnya nilai UN secara nasional pada pelajaran Bahasa Indonesia harus disikapi dengan perbaikan politik kebijakan agar tidak terulang dan justru menjadi bahan tertawaan bangsa lain bahwa kita sebagai bangsa yang tidak memiliki kepedulian terhadap bahasanya sendiri.

Ditulis oleh Muh. Khamdan, Peneliti Paradigma Institute dan peserta program kajian Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: