Model Kurikulum Bahasa Indonesia Masa Depan (tulisan ketiga-habis)

Atas dasar pandangan belajar yang diuraikan dalam bagian terdahulu, bagaimanakah seharusnya materi pembelajaran bahasa Indonesia diorganisasikan? Untuk penjawab pertanyaan tersebut, berikut saran teoritisnya.

  1. Pembelajaran bahasa Indonesia dibangun dari kerja sama antara guru dan siswa. Kerja sama itu terbentuk dalam ‘penyepakatan’ bersama tentang kompetensi, tujuan, dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Inisiator pembuka dan penutup kelas bahasa Indonesia adalah guru, yaitu melalui pernyataannya tentang akan dimulainya topik tertentu, kegiatan yang dipilih, atau diakhirinya topik yang baru dibahas. Atas dasar itu, di masa yang akan datang disarankan agar inisiator berpindah ke siswa, agar tercipta kelas bahasa Indonesia yang ‘hidup’.
  2. Oleh karena yang terjadi selama ini PBI lebih mengutamakan pada pengetahuan tentang bahasa (form-focused). Atas dasar itu, di masa yang akan datang disarankan agar guru menciptakan kelas menekankan pada pemerolehan bahasa yang sesungguhnya.
  3. Oleh karena selama ini sudah menjadi tradisi guru memberikan latihan yang bersifat diskret terhadap salah satu aspek tata bahasa, pada masa yang akan datang disarankan agar guru membangun real-world tasks, yaitu pembelajaran yang berisi contoh ujaran bahasa Indonesia dari wacana autentik dan aktual. Harapannya, input yang diterima siswa adalah input bermakna (comprehensible input), bukan semata-mata input yang direkayasa (modified input).
  4. Selama ini, arah interaksi yang tercipta dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah interaksi searah, yaitu dari guru ke siswa, yaitu ‘guru bertanya, siswa menjawab’. Selanjutnya disarankan agar guru mengembangkan interaksi kelas dengan multiarah sehingga tercipta ‘transactional tasks’, yaitu task yang penuh dengan penyampaian ide, perdebatan, menyampaikan opini melalui tulisan.

Berikut ini saran teoritis untuk guru dalam mengorganisasikan materi pembelajaran bahasa Indonesia, berdasarkan hasil riset pemerolehan bahasa kedua.

1.   Difokuskan pada ‘pemerolehan bahasa (acquisition)’, bukan pembelajaran bahasa (learning).

Pemerolehan bahasa merupakan proses yang tidak disadari oleh pembelajar bahasa, sedangkan pembelajaran merupakan proses yang disadari. Dalam proses  pemerolehan bahasa, siswa tidak mengalami suatu proses pengajaran tentang pengetahuan linguistik atau tatabahasa secara sadar. Dalam belajar bahasa, sebenarnya secara sadar siswa mengalami pengajaran tentang pengetahuan linguistik atau tatabahasa, tetapi yang digunakan dalam berbahasa adalah justru hasil yang tidak disadari.

2.   Menciptakan situasi yang alamiah

Pemerolehan bahasa dilaksanakan secara alamiah, sedangkan pembelajaran bahasa dilaksanakan secara tidak alamiah atau artifisial. Penutur bahasa semata-mata memperhatikan pesan yang disampaikan, bukan bentuk ujarannya. Oleh karena itu, kaidah yang diendapkan adalah kaidah implisit. Jadi, guru menghindari ceramah tentang ‘tata bahasa’. Ingat, pernahkah seorang ibu mengajarkan tata bahasa pada anaknya umur tiga tahun? Tahu-tahu, umur empat tahun ia sudah bida berbahasa pertama dengan lancar! Mengapa hal itu tidak kita tiru?

3.   Difokuskan pada latihan terus-menerus sebagai penajaman

Bahan penajaman yang dimaksudkan adalah latihan-latihan yang berupa tugas bercakap-cakap (berbicara), membaca sebanyak-banyaknya, menulis terus-menerus, dan menggali informasi melalui mendengarkan. Latihan-latihan yang diberikan selain diberi porsi yang lebih banyak juga harus memberi motivasi yang menyenangkan untuk berlatih terus-menerus. Dengan demikian, kelas bahasa harus memberikan pajanan yang cukup untuk terjadinya proses pemerolehan bahasa, dengan memperbanyak latihan-latihan berbahasa yang produktif. Wujudnya dengan memperluas materi ketrampilan berbahasa praktis dan aktual, baik dalam pengembangan kosa kata, mendengarkan, membaca, bercakap-cakap, dan menulis.

4.   Memberi prioritas atau penekanan pada materi yang paling berguna atau dibutuhkan siswa dalam berbahasa, sesuai dengan tujuan belajar bahasanya.

Jika ketentuan ini diikuti, maka apa yang diajarkan akan menjadi masukan yang bermakna. Dalam kurikulum hal itu sudah ditegaskan, bahwa pengajaran bahasa untuk berlatih berbahasa, bukan belajar tentang bahasa.

Dalam mengorganisasikan materi, guru harus mempertim-bangkan kriteria berikut.

  1. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa  yang sangat linguistis.
  2. Kebutuhan berbahasa nyata siswa harus menjadi prioritas guru. Bahan-bahan pembelajaran disarankan bersifat otentik.
  3. Siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan melalui bahasa.
  4. Kelas diharapkan menjadi masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. Guru diharapkan sebagai ‘pemicu’ kegiatan berbahasa lisan dan tulis. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa agar dihindari.
  5. Tugas-tugas (task) dalam pembelajaran bahasa dijalankan secara bervariasi, berselang-seling, dan diperkaya, baik materi maupun kegiatannya. Harus diingat bahwa kegiatan berbahasa itu tak terbatas sifatnya. Membaca artikel, buku, iklan, brosur; mendengarkan pidato, laporan, komentar, berita; menulis surat, laporan, karya sastra, telegram, mengisi blangko; berbicara dalam forum, mewawancarai, dan sebagainya adalah contoh betapa luasnya pemakaian bahasa itu.

Dalam konteks teori pembelajaran umum, pengorganisasian materi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut.

  1. Belajar Berbasis Masalah (Problem-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain (Moffitt, 2001).
  2. Pengajaran Otentik (Authentic Instruction), yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata.
  3. Belajar berbasis Inquiri (Inquiry-Based Learning) yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
  4. Belajar Berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
  5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.
  6. Belajar Berbasis Jasa-layanan (Service Learning) yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi menekanka hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
  7. Belajar Kooperatif (Cooperative Learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.

Penilaian

Untuk meningkatkan kinerja pembelajaran, telah dipilih kurikulum berbasis kompetensi sebagai acuan. Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berpusat pada siswa (kelas menjadi milik siswa), dengan penanda, guru lebih banyak mengarahkan siswa daripada berceramah dan menjelaskan.
  3. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  4. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  5. Sumber belajar bukan hanya  guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  6. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Kompetensi. Itulah kata kunci dalam proses belajar mengajar di sekolah kita nanti. Penguasaan kompetensi menjadi target guru dalam mengajar, bukan menuntaskan materi. Dalam kelas KBK, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, yaitu memiliki kompetensi. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari ‘menemukan sendiri’, bukan dari ‘apa kata guru’

Sejalan dengan prinsip belajar yang dikembangkan, penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan juga mendasarkan diri pada penilaian yang sebenarnya, yaitu Authentic Assessment. Authentic Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa menberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode saja (akhir semester). Kegiatan penilaian dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.

Landasan penilaian dalam kurikulum mendatrang adalah pelaksanaan penilaian yang berkelanjutan, akurat, dan konsisten, sebagai bentuk akutanbilitas kepada publik, melalui identifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporannya kepada orang tua dan masyarakat. Prinsip yang mendasarinya adalah sebagai berikut.

  1. Penilaian berorientasi pada pencapaian kompetensi.
  2. Dasar pemikirannya, guru menilai apa yang seharusnya dinilai, bukan melulu mengukur pengetahuan siswa.
  3. Proses penilaian berlangsung terus-menerus. Data nilai diambil dari berbagai sumber dan berbagai cara, tidak hanya hasil tes. Yang utama, guru menilai dari penampilan, kinerja, dan hasil karya siswa. Yang mendapat nilai tinggi dalam olah raga, adalah siswa yang olah raganya paling bagus. Bukan, hasil ulangan tentang olah raga.
  4. Penilaian menekankan pada proses dan hasil.
  5. Penilaian dilaksanakan secara berkelanjutan dan komprehensif (mencakup semua aspek).

Genesse dan Upshur (1999: 75-264), Evaluasi ada dua cara, tanpa tes dan dengan tes. Evaluasi tanpa tes: observasi, portofolio, conference, jurnal, questionarie, dan interview.

Sesuai dengan prinsip authentic assessment, kemampuan berbahasa Indonesia siswa diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. Alat penilaian bahasa yang otentik yang disarankan adalah

  1. Hasil Karya (Product): berupa karya sastra, laporan pengamatan, tulisan, benda, laporan perjalanan, puisi, artikel, essai, cerpen, karya ilmiah populer dll.
  2. Penugasan (Project), yaitu bagaimana siswa bekerja dalam kelompok atau individual untuk menyelesaikan sebuah proyek
  3. Kinerja (Performance), yaitu penampilan diri dalam kelompok maupun individual, dalam bentuk berbicara, berwawancara, kedisiplinan, kerjasama, kepemimpinan, inisiatif, dan penampilan di depan umum.
  4. Tes Tertulis (Paper and Pencil Test), yaitu penilaian yang didasarkan pada hasil ulangan harian, semester, atau akhir program.
  5. Kumpulan Kerja Siswa (Portofolio), yaitu kumpulan karya siswa berupa laporan, gambar, peta, benda-benda, karya tulis, isian, tabel-tabel, dll.

Adapun prosedur penilaian mengikuti langkah-langkah yang didasarkan oleh Genesse dan Upshur (1999: 6) berikut:

Tujuan Penilaian
Pengumpulan Data
Penafsiran Data
Pengambilan Keputusan

Dalam tugasnya sebagai manajer kelas, guru melaksanakan beragam penilian. Jenis penilaian yang diterapkan guru, antara lain berikut ini.

  1. Penilaian Kelas
  2. Tes Kemapuan Dasar
  3. Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi
  4. Benchmarking.
  5. Penilaian Program

Daftar Pustaka (silakan kirim permintaan lewat email)

Penilaian

Untuk meningkatkan kinerja pembelajaran, telah dipilih kurikulum berbasis kompetensi sebagai acuan. Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.   Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

2.   Berpusat pada siswa (kelas menjadi milik siswa), dengan penanda, guru lebih banyak mengarahkan siswa daripada berceramah dan menjelaskan.

3.   Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

4.   Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

5.   Sumber belajar bukan hanya  guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

6.   Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Kompetensi. Itulah kata kunci dalam proses belajar mengajar di sekolah kita nanti. Penguasaan kompetensi menjadi target guru dalam mengajar, bukan menuntaskan materi. Dalam kelas KBK, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, yaitu memiliki kompetensi. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari ‘menemukan sendiri’, bukan dari ‘apa kata guru’

Sejalan dengan prinsip belajar yang dikembangkan, penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan juga mendasarkan diri pada penilaian yang sebenarnya, yaitu Authentic Assessment. Authentic Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa menberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode saja (akhir semester). Kegiatan penilaian dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.

Landasan penilaian dalam kurikulum mendatrang adalah pelaksanaan penilaian yang berkelanjutan, akurat, dan konsisten, sebagai bentuk akutanbilitas kepada publik, melalui identifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporannya kepada orang tua dan masyarakat. Prinsip yang mendasarinya adalah sebagai berikut.

1.   Penilaian berorientasi pada pencapaian kompetensi.

2.   Dasar pemikirannya, guru menilai apa yang seharusnya dinilai, bukan melulu mengukur pengetahuan siswa.

3.   Proses penilaian berlangsung terus-menerus. Data nilai diambil dari berbagai sumber dan berbagai cara, tidak hanya hasil tes. Yang utama, guru menilai dari penampilan, kinerja, dan hasil karya siswa. Yang mendapat nilai tinggi dalam olah raga, adalah siswa yang olah raganya paling bagus. Bukan, hasil ulangan tentang olah raga.

4.   Penilaian menekankan pada proses dan hasil.

5.   Penilaian dilaksanakan secara berkelanjutan dan komprehensif (mencakup semua aspek).

Genesse dan Upshur (1999: 75-264), Evaluasi ada dua cara, tanpa tes dan dengan tes. Evaluasi tanpa tes: observasi, portofolio, conference, jurnal, questionarie, dan interview.

Sesuai dengan prinsip authentic assessment, kemampuan berbahasa Indonesia siswa diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. Alat penilaian bahasa yang otentik yang disarankan adalah

1.   Hasil Karya (Product): berupa karya sastra, laporan pengamatan, tulisan, benda, laporan perjalanan, puisi, artikel, essai, cerpen, karya ilmiah populer dll.

2.   Penugasan (Project), yaitu bagaimana siswa bekerja dalam kelompok atau individual untuk menyelesaikan sebuah proyek

3.   Kinerja (Performance), yaitu penampilan diri dalam kelompok maupun individual, dalam bentuk berbicara, berwawancara, kedisiplinan, kerjasama, kepemimpinan, inisiatif, dan penampilan di depan umum.

4.   Tes Tertulis (Paper and Pencil Test), yaitu penilaian yang didasarkan pada hasil ulangan harian, semester, atau akhir program.

5.   Kumpulan Herja Siswa (Portofolio), yaitu kumpulan karya siswa berupa laporan, gambar, peta, benda-benda, karya tulis, isian, tabel-tabel, dll.

Adapun prosedur penilaian mengikuti langkah-langkah yang didasarkan oleh genesse dan Upshur (1999: 6) berikut:

Tujuan Penilaian

Pengumpulan Data

Penafsiran Data

Pengambilan Keputusan

Dalam tugasnya sebagai manajer kelas, guru melaksanakan beragam penilian. Jenis penilaian yang diterapkan guru, antara lain berikut ini.

1.   Penilaian Kelas

2.   Tes Kemapuan Dasar

3.   Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi

4.   Benchmarking.

5.   Penilaian Program

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: