Model Kurikulum Bahasa Indonesia Masa Depan (tulisan kedua)

Tulisan ini merupakan bahagian kedua dari pembahasan mengenai model kurikulum bahasa Indonesia masa depan. Kajian akan difokuskan pada aspek pembeoajaran mapel bahasa Indonesia.

Kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia  yang berupa tugas-tugas (task), input yang diterima siswa, dan pola interaksi guru—siswa ditujukan agar siswa dapat berbahasa Indonesia yang sesungguhnya. Agar pembelajaran BI di sekolah dasar dan mennegah produktif, strategi belajar yang dikembangkan harus menunjang pencapaian tujuan itu. Strategi pembelajaran yang ideal semestinya mengarahkan siswa pada kegiatan menemukan sendiri. Dengan kata lain, keterampilan berbahasa yang diperoleh harus berasal dari pengalaman membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dalam bahasa Indonesia.

Strategi pembelajaran semacam itu dapat dipenuhi jika pendekatan pembelajarannya sesuai dengan yang dikembangkan guru. Untuk menyukseskan penerapan pembelajaran yang berbasis pengalaman (pendekatan kontekstual), skenario  pembelajaran harus didesain sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual. Adapun ciri utama dari pembelajaran itu adalah latihan berbahasa terus-menerus dengan berbagai variasi, hingga siswa mampu meningkatkan kreativitasnya dalam berbahasa Indonesia.

Lalu, strategi pembelajaran yang bagaimanakah yang disarankan? Strategi apakah yang tepat digunakan agar kompetensi berbahasa Indonesia siswa bisa berkembang baik? Berikut ini, kajian sekilas mengenai pilihan strategi yang produktif dalam pembelajaran bahasa.

Sejak dekade 1980-an, penggunaan task sebagai basis belajar bahasa kedua telah banyak diterima para ahli (Loschky dan Bley-Vroman, 1993). Para ahli yang menyarankan penggunaan task sebagai basis pengembangan kompetensi komunikatif dengan bukti-bukti penelitian empiris antara lain Long (1985), Bley-Vroman (1989), Madden dan Reinhart (1987), Nunan (1989), Rutherford (1987), dan Ur (1988). Para ahli pengajaran bahasa kedua tersebut mengajukan konsep task yang komunikatif (communicative tasks) untuk dikembangkan dalam perencanaan pengajaran bahasa kedua yang produktif. Hingga kini, usulan tersebut terus bergulir dan berkembang di kelas-kelas praktis pengajaran bahasa kedua.

Ada beberapa dukungan teoritis dari penggunaan task sebagai basis pengembangan kompetensi berbahasa siswa. Pertama, dewasa ini ada kecenderungan bahwa pengajaran bahasa yang produktif harus berlandaskan fakta yang terjadi di kelas yang sebenarnya, yaitu apa yang dilakukan oleh guru dan siswa (task riil). Ini berarti, fakta atau informasi dari siswa atau apa yang terjadi di kelas digunakan untuk merencanakan, menerapkan, dan menilai program pengajaran yang dilaksanakan (Nunan, 1993:19; Chaudron, 1990:14). Pengajaran bahasa yang dikembangkan berdasarkan pada asumsi linguistik yang sejak lama mewarnai isi dan arah pengajaran bahasa kedua sudah mulai ditinggalkan. Dengan kata lain, pengembangan pengajaran bahasa harus berangkat dari hasil penelitian tentang pengajaran bahasa pula.

Kedua, hasil penelitian membuktikan bahwa tipe task tertentu yang telah diisolasi mempengaruhi bahasa yang diujarkan siswa yang kemudian berdampak pada perubahan pandangan teori belajar bahasa kedua. Beberapa penelitian yang berkaitan dengan temuan tersebut dilaporkan oleh Long dan Sato (1984), Ellis (1985), dan Tarone (1988) (Duff, 1993:57). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa variabel task secara signifikan mempengaruhi performansi siswa dalam belajar bahasanya. Jiwa dari task adalah interaksi. Sedangkan interaksi yang tercipta akan menghasilkan aktivitas negosiasi makna, yang pada gilirannya menciptakan pelatihan berbahasa nyata.

Landasan teoritis keempat, seperti yang sudah sedikit diungkap di atas, melalui task, pembelajaran bahasa diharapkan lebih ‘hidup’ oleh kegiatan bernegosiasi makna. Potongan kegiatan berbahasa riil, yang selanjutnya disebut task, menjadi sarana siswa atau pembelajar bahasa terjun  dalam sebuah lingkungan yang secara terorganisasi diciptakan untuk berlatih berbahasa. Seperti yang dinyatakan Pica, Kanagy, dan Falodun (1993:10), perspektif teoritis yang mendukung penggunaan task komunikatif dalam kelas bahasa kedua yaitu bahwa bahasa dipelajari dan diajarkan dengan baik hanya melalui interaksi. Yang pasti, dukungan terhadap pengajaran bahasa yang berbasis task terus mengalir dan berkembang. Bukti-bukti empiris dari penelitian kelas terus digali.

Ciri kelas yang efektif itu, antara lain

  1. pengajaran diwadahi oleh kurikulum yang telah diprogramkan sebelumnya,
  2. tingginya harapan siswa melalui kegiatan belajarnya,
  3. siswa secara cermat dan rajin memperhatikan pelajarannya,
  4. instruksi yang disampaikan jelas dan terfokus,
  5. kemajuan belajar dipantau secara tak tampak,
  6. jika siswa belum mengerti, pengajaran diulang,
  7. waktu belajar hanya untuk belajar,
  8. kelas nyaman untuk belajar,
  9. kelompok belajar dibentuk di kelas sesuai dengan kebutuhan pengajaran,
  10. standar perilaku kelas tinggi,
  11. interaksi pribadi antara guru dan murid tinggi, dan
  12. adanya pemberian insentif atau hadiah bagi yang memperoleh keberhasilan belajar (Richard dan Nunan, 1990:10).

Dalam pengajaran bahasa Indonesia, praktik berbahasa melalui tugas-tugas berbahasa (task) menjadi basis utama pengembangan kompetensi berbahasa siswa. Pilihan strategi itu digambarkan dalam bagan berikut.

GOAL —> CONTENT —> EXPERIENCE —> EVALUATION

<————————————–

Bagan tersebut menempatkan pengalaman berbahasa sebagai sentral kegiatan belajar-mengajar bahasa. Negosiasi makna dalam bentuk pelatihan berbicara, membaca, menulis, dan mendengarkan berlangsung dalam suasana berbahasa nyata yang telah diorganisasikan oleh guru.

Pengkategorian teknik pembelajaran berbahasa lebih teknis dikemukakan oleh Pattison (1987). Ia membedakan tujuh tipe task, yaitu (1) pertanyaan dan jawaban, (2) dialog dan bermain peran, (3) kegiatan mencocokkan, (4) strategi komunikasi, (5) gambar dan menceritakan gambar, (6) puzzels dan masalah, dan (7) berdiskusi dan mengambil keputusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: