Bahasa dalam Perspektif Jender

Pendahuluan

Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis, melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya.

Berkaitan dengan istilah jender, tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128), istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita, sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. Namun, perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. Pembagian itu meliputi maskulin, feminin, dan netral (Matthews 1997: 142).

Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu, pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan, perbedaan, dominasi, (2) perbedaan (3) dominasi, (4) jender dan variasi fonetik, (5) jaringan sosial, (6) jender dalam lintasan budaya, (7) idiologi linguistik, dan (8) reformasi bahasa.

1. Ke(tidak)samaan, Perbedaan, dan Dominasi

Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda, adaiah benar-benar alamiah. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. Bidang vokal laki-laki lebih panjang, laring mereka lebih besar, suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik, bentuk dan panjang bidang vokal. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada.

Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. Daiam kebudayaan yang berbeda, musik recital akan berbeda-beda cirinya. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masing-masing masyarakat. Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Misalnya, di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. Di Jepang, terdapat temuan bahwa selama tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki. Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan

Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimat­kalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. Sementara itu, titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku, namun selagi bahasa merupakan “permainanan” bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris.

Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya

dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya kata­kata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan, cara mereka menyapa satu sama lain, dan gejala etiket linguistik lainnya. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya, ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan.

Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda.

2. Perbedaan

Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik, terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‘tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)’ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson, 1992). Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud, akan tetapi penjelasannya berbeda. Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. Penjelasan seperti di atas, contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York, ditemukan, bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya.

Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov, 1990; Gordon, 1997). Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa, seperi Norwich (Trudgill, 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult, 1992). Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan, seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal.

Perbedaan pola pergE.,,ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya, sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert, 1989; Tannen, 1991).

3. Dominasi

Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‘dan ketidaksetaraan. Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. Contoh, kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral, akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum laki-laki. (Gibbon, 1999: 61). Sementara itu, pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. (Spender, 1985: 139). Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas, bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan, termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive).

4. Jender dan Variasi Fonetik

Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor, diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‘ing’, pada kata running, walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in). Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti ini. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada, perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri, namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid, teman dan orang asing, dan sebagainya. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan, tingkat sosial, jaringan perkenalan, punya anak atau tidak, bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara.

Labov (1990) dikutip Coulmas, 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‘in’ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‘in’. Seperti tampak pada gambar 3.1 hal 41. Jika dilihat dari jenis kelamin, akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‘in daripada perempuan. Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada laki­laki. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold.

5. Jaringan Sosial

James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. Contohnya, kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang

Begitu juga pada kata-kata ‘trap’, dan ‘rather’ memiliki variasi lokal  vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki.

Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti kelas sosial, etnik, dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki, seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku, seperti kalimat “I don’t want none” yang baku ialah “I want nothing” atau “I don’t want anything” (Sumarsono dan Partana, 2002: 111).

Hubungan antara jender, jaringan sosial, dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan.

Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik.

  1. 6. Jender Lintas Budaya

Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri.

Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi.

  1. 7. Ideologi Linguistik

Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu, sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang, ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. M. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara “kewanitaan” dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. M. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja.

8. Reformasi Bahasa

Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. Misalnya saja penulisan “Essay on Man” cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki, dirubah menjadi “Essay on Humanity”. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja.

Penutup

Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan, kelas sosial, atau faktor sosial lain.

5 Comments (+add yours?)

  1. Kris
    Jun 25, 2010 @ 22:36:59

    Lengkap sekali bahasannya Mas.
    Makasih,

    Reply

  2. Liza
    Jun 25, 2010 @ 22:39:12

    Terima kasih mas,
    Ulasan tentang bahasa dan jender ini kebetulan sedang sangat saya butuhkan. Terima kasih, sekali lagi
    Salam hangat.

    Reply

    • Gumono
      Jun 25, 2010 @ 23:06:34

      Senangnya bisa berbagi.
      Saya tunggu kunjungan mbak Liza, dan tentu saya tunggu opininya.
      Terima kasih

      Salam

      Reply

  3. luki
    Aug 22, 2011 @ 08:44:04

    TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: