Apa saja yang diujikan dalam UN? (seri Ujian Nasional 4)

Ujian akhir sekolah selayaknya menguji seluruh kecerdasan yang dikembangkan selama anak mengikuti proses pendidikan. Kecerdasan dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Crow and Crow, seperti dikutip Ramayulis, mengemukakan bahwa intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan hidupnya. Pengertian ini tidak hanya menyangkut dunia akademik, tetapi lebih luas, menyangkut kehidupan non-akademik, seperti masalah-masalah artistik dan tingkah laku sosial.[1]

Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif.. Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif, seperti kehidupan emosional, moral, spritual, dan agama.

Daniel Goleman, seorang psikolog dari Harvard University, melaporkan hasil penelitiannya pada tahun 1995, bahwa tingkat intelegensi yang tinggi (IQ) tidak menjamin gengsi, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kesuksesan hidup. Ada kecerdasan lain yang tidak kalah pentingnya dari Intellegence Quotient (IQ), yaitu Emotional Quotient (EQ).[2]

Perbedaan antara ketiga jenis kecerdasan ini adalah pola pikir IQ mengindikasikan dominasi rasionalitas. Rasionalitas dapat berbenturan dengan nilai-nilai emosional dan nilai-nilai spiritual (agama). Rasionalitas juga mengimplikasikan dominasi rasio atau nalar dalam kehidupan. Dominasi rasio ini menyebabkan melemahnya kehidupan bernegara. Setelah perang dunia II, terutama sejak tahun 70-an, akibat-akibat negatif dari dominasi rasio itu mulai dirasakan oleh sejumlah kalangan di Barat, misalnya terjadinya dekadensi dalam kebudayaan Barat, yang antara lain ditandai oleh semakin jauhnya individu dan masyarakat dari agama.[3]

Kecerdasan emosi (EQ) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk mengendalikan, mengorganisir, dan mempergunakan emosi ke arah kegiatan yang mendatangkan hasil optimal. Dengan emosi yang dikendalikan akan merupakan dasri bagi otak untk dapat berfungsi dengan baik. Dengan demikian, kecerdasan emosi tidak mengabaikan kecerdasan intelektual, tetapi melengkapinya agar menjadi satu kekuatan inhern dalam diri seseorang.[4]

Sedangkan kecerdasan spritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Sebagai umat beragama kecerdasan spritual ini dapat dihubungkan dengan kemampuan untuk menghasilkan karya kreatif dalam berbagai kehidupan, memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkan-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, dan memiliki pola pemikiran tauhid serta berprinsip hanya karena Tuhan Allah.[5]

Selain ketiga jenis kecerdasan di atas, Gardner menawarkan cara pandang alternatif terhadap kompetensi intelektual manusia. Menurutnya secara garis besar jenis kecerdasan itu terdiri dari beberapa hal berikut:[6]

Kecerdasan Linguistik (Bahasa). Kecerdasan linguistik meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Penulis, jurnalis, penyair, orator dan pelawak adalah contoh nyata orang yang memiliki kecerdasan linguistik.

Kecerdasan Logis-Matematis. Kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis-jenis keterampilan yang sangat dikembangkan pada diri para insinyur, ekonom, akuntan, detektif dan para anggota profesi hukum.

Kecerdasan Visual-Spasial. Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal pada mata pikiran seseorang. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain pada arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer, dan perencana strategis.

Kecerdasan Musikal. Kemampuan menggubah atau mencipta musik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Tetapi sebenarnya kebanyakan orang memiliki kecerdasan musikal dasar yang dapat dikembangkan.

Kecerdasan Interpersonal (Sosial). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, serta memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki para guru yang baik, fasilitator, ahli medis, politisi, pemuka agama, dan waralaba.

Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan menganalisis diri dan merenungkan diri,mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh para filosof, penyuluh, pembimbing, dan banyak penampil puncak dalam setiap bidang.

Kecerdasan Naturalis. Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif. Misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Para ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan, semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini.

Pandangan Gardner tersebut setidaknya mengantarkan satu penjelasan bahwa subjek-subjek akademik yang telah diajarkan melalui cara melibatkan hanya dua kecerdasan, linguistik dan logis matematis adalah masih sangat tradisional.

Sementara UN memakai tolak ukur yang tradisional tersebut. Perlu diketahui bahwa isu besar tentang IQ terjadi sekitar awal abad ke-20. Isu yang membidik cerdas atau tidaknya otak melalui tes yang populer dengan sebutan School Aptitude Test (SAT). Sementara penemuan kecerdasan emosional (EQ) dalam psikplogi mencapai momentumnya pada tahun 90-an atas prakarsa Naisbitt dan kecerdasan spritual (SQ) yang dibidani Danah Zohar dan Ian Marshal terjadi pada tahun 2000.

Nampak jelas bahwa UN hanya menggunakan dua standar kecerdasan lama dan tidak kontekstual dengan tantangan masa depan generasi Tatkala pemerintah bertahan untuk terus menjadikan UN sebagai alat evaluasi belajar nasional, maka secara kasat mata acuan yang digunakan telah out off date dan kurang menghargai keragaman jenis kompetensi intelektual lainnya. Padahal hasil tes IQ tidak menjadi tolak ukur pencapaian keberhasilan ekonomi, keberhasilan dalam hubungan antar manusia, atau kesuksesan hidup seseorang. Kata-kata William Irvin Thompson berikut mungkin dapat direnungkan bahwa setiap orang “need to grow and develop through emotional and physical activity, not through sitting in libraries trying to understand the passionate abstractions of older people.”

Penilaian oleh pemerintah yang bertujuan untuk melihat dan mengetahui kondisi nyata kualitas pendidikan sehingga negara dapat menyiapkan rancangan standarisasi, dikomentari pengamat pendidikan H.A.R. Tillaar, ”assessment yang dilakukan pemerintah, seperti ujian nasional, tidak bisa menentukan kelulusan seorang murid, apalagi hanya dengan tiga mata pelajaran. Kelulusan siswa bukan ditentukan oleh menteri. Ini harus dipahami”. Dalam menanggapi keinginan pemerintah untuk tetap melangsungkan ujian nasional. Tilaar melihat ujian nasional sebagai pembodohan. Tidak hanya kepada murid, tetapi juga kepada rakyat. Terbukti setelah ujian akhir nasional beberapa tahun terakhir, tidak terdengar pemerintah melakukan perbaikan nyata berdasarkan hasil ujian nasional.[7]


[1]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Kalam Mulia, 2002, h. 96

[2]Daniel Goleman, Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosional, Mengapa EI Lebih Penting dari pada IQ, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996, h. 47

[3]Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern, Yogyakarta: IRCiSoD, 2004, h. 198

[4]Ibid.

[5]Ramayulis, Op. Cit., h. 106

[6]Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Accelarated Learning for the 21st Century, terj. Dedi Ahimsa, Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, 2003, h. 59

[7] http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0502/05/humaniora/1542348.htm, diakses tanggal 8 Nopember dari artikel kompas 4 Februari 2008, ”Pemerintah Perlu Bedakan Evaluasi dengan Penilaian”.

2 Comments (+add yours?)

  1. ryo4life
    Jun 08, 2010 @ 18:03:48

    buat UN kapan mas…?!! Kunjungi juga http://indonesia4lifetransferfactors.wordpress.com/

    Tq, Ryo4life.

    Reply

    • gumonounib
      Jun 09, 2010 @ 08:15:45

      Ini untuk UN kapanpun, selagi masih diadakan. Tulisan ini merupakan hasil permenungan dari seorang guru berhati nyaman (saya), setelah mengikuti silang sengketa pendapat mengenai UN serta terlibat langsung melaksanakannya. Terima kasih telah mampir, saya segera akan meluncur ke rumah (blog) Anda!

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: