Pemerintah Bertanggung Jawab dalam Upaya Penyelamatan Bahasa Indonesia di Ruang Publik

Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa negara. Dengan kedudukan itu, maka bahasa Indonesia digunakan pada administrasi kenegaraan, pidato resmi kenegaraan, peraturan perundang-undangan, dokumen kenegaraan, piagam kerjasama, nama intansi/lembaga, merek dagang, pelayanan kepada masyarakat, pertemuan, rapat, sidang, konferensi, dan sebagainya.

Bahasa Indonesia harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, yang dibuktikan dengan pemberian ruang khusus bagi bahasa Indonesia, terutama pada ruang publik, dengan cara memberi tempat istimewa untuk bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa lainnya.

Terpaan gelombang besar globalisasi mempengaruhi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia. Bahasa asing –misalnya bahasa inggris– secara bebas mewarnai setiap satu kata bahkan kalimat pada setiap reklame yang ditempatkan dijalan-jalan pada negeri ini. Kita seakan membiarkan kondisi ini berlanjut begitu saja, kalaupun sudah ada upaya dari Pusat Bahasa Depdiknas untuk membuat RUU Kebahasaan, hal itu masih terkendala –sebut saja– oleh kebijakan.

Pemerintah seakan enggan meligitimasi kehadiran RUU kebahasaan, kengganan itu berimbas terhadap lahirnya asumsi di tengah masyarakat bahwa UU Bahasa itu tidak penting, menghambat kreativitas, dan serentetetan kata lain yang pada akhirnya menyebar menjadi sebuah ungkapan “menolak lahirnya UU Kebahasaan”.

Para linguis pun menyingkapi pasal-pasal dalam RUU Bahasa dengan tanggapan yang hampir sama dengan masyarakat biasa. Jos Daniel Parera, mantan dosen IKIP Jakarta, misalnya, menilai RUU Bahasa dan Kebahasaan bisa membunuh kreativitas dan inovasi masyarakat dalam bahasa dan berbahasa. Bahasa dan berbahasa adalah fenomena alam, oleh karena itu tidak ada manusia pun yang berhak mengatur bahasa dan orang berbahasa.

Harimurti Kridalaksana, mengatakan, undang-undang bahasa nantinya hanya mengatur penggunaan bahasa dalam tingkat pemerintahan. Menurutnya, aturan bahasa di masyarakat tak akan berlaku efektif karena masyarakat bisa mengatur sendiri penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini memberi syarat bahwa, bahasa Indonesia di ruang publik akan kita nikmati apa adanya, jika masyarakat tidak di beri pemahaman tentang begitu pentingnya mempertahankan keutuhan bahasa Indonesia. Tiga jenis bahasa yang ada di Indonesia, yaitu bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing saling memberi warna. Bahasa daerah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia dalam aspek budaya atau nilai rasa, sedangkan bahasa asing mewarnai penggunaan bahasa Indonesia di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta di bidang Ekonomi khususnya Perniagaan. Akan tetapi yang patut dipertegas lagi adalah bagaimana setiap warna yang hadir itu tidak menenggelamkan eksistensi bahasa Indonesia.

Pemerintah daerah sebagai perpanjangantangan pemerintah pusat, harus turut serta dalam menyosialisasikan bahasa Indonesia. Peran serta itu harus dibuktikan dengan tindakan nyata, misalnya dengan menumbuhkan kesadaran aparatur untuk senantiasa menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang berlaku. Baik dalam naskah dinas, maupun komunikasi lisan selama berada di lingkungan kantor tempat ia bekerja.

Naskah dinas yang dikeluarkan oleh pemerintah –baik pusar atau daerah– menjadi cerminan bagi masyarakat, karena dari naskah dinas itulah pemahaman awal tentang standarisasi penggunaan bahasa Indonesia di pemerintahan daerah setempat dapat diukur. Selain itu, pada ruang publik pun diperlukan langkah kongkrit pemegang kebijakan di daerah untuk menindak tegas pelaku kesalahan berbahasa. Terutama bahasa Indonesia yang digunakan pada merek toko, pusat berbelanjaan, dan kantor.

Penertiban kesalahan berbahasa di ruang publik menjadi tugas pemerintah. Pemerintah pusat dalam hal ini Pusat Bahasa telah berupaya untuk membuat RUU kebahasaan, kehadiran RUU Kebahasaan itu, harus didukung pula oleh pemerintah daerah. Dukungan nyata terhadap RUU Kebahasaan itu harus diperkuat dengan membuat RAPERDA (Rancangan Peraturan Daerah) Kebahasaan yang mengatur tentang penggunaan bahasa di ruang Publik. Dua mata rantai yang saling berhubungan, yang menuntut upaya keras untuk menjadikan RUU Kebahasaan menjadi UU Kebahasaan, dan diikuti setelah itu dengan diterbitkan peraturan daerah tentang kebahasaan.

Keprihatinan kita ketika melihat merek toko, kantor, dan hotel yang lebih cenderung menggunakan bahasa asing, padahal padanannya sudah ada dalam bahasa Indonesia. Istilah bahasa asing tetap dapat digunakan, namun, terjemahan Bahasa Indonesianya harus ditulis dengan ukuran huruf yang lebih besar. Sedangkan istilah bahasa asing ditulis di bawahya dengan ukuran yang lebih kecil.

RUU Kebahasaan dan jika ada RAPERDA Kebahasaan harus memiliki ketegasan dalam pemberian saksi terhadap pelanggaran penggunaan bahasa. Menurut Prof. Dr. Melani Budianta dari segi pengawasan, pengaturan dan pemberian sanksi RUU Bahasa membangun suasana represif. Sebaliknya, ketidakmampuan mengimplementasikan aturan akan membuat sia-sia. Jika RUU Bahasa menjadi pilihan, orientasi sebaiknya pada pengembangan bahasa secara positif dan proaktif (dari pada penekanan pada pemagaran). Pemberlakuan Undang-Undang Bahasa juga perlu dibarengi pendidikan bahasa Indonesia yang lebih baik.

Dengan mengambil langkah strategik dalam penyelamatan bahasa, secara langsung kita juga telah membantu meminimalisasi terjadinya pergeseran bahasa. Pergeseran yang disebabkan oleh mulai ditinggalkannya bahasa oleh para anggota suatu masyarakat. Bukan tidak mungkin bahasa Indonesia akan ditinggalkan penuturnya, jika tidak ada upaya penyelamatan. Bangsa ini adalah bangsa yang cerdas, karena bangsa ini memiliki bahasa pemersatuan yaitu Bahasa Indonesia.

(Artikel ini ditulis dan disajikan oleh H. Hasan Kasyim, S.H. Asisten II Setda Provinsi Jambi pada Kongres Bahasa 2008 di Hotel Bidakara Jakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: