Upaya Pemeliharaan Bahasa Daerah yang Terancam Punah: Kondisi Kebahasaan, Sikap Bahasa, dan Kebutuhan Bahasa Masyarakat Pulau Enggano

The final purpose of this research is to find out the appropriate Bahasa Indonesia teaching model for elementary students in Enggano island in north Bengkulu regency  which enable to protect the Enggano language which is threatened extinct. This research  has been planned for three years ( multi – years ). The first year of this research was to (1) describe the bilingualism condition  of  Enggano island society, (2) the attitude of  Enggano island society; and (3) identify the Enggano’s society need toward  mastering Indonesian and Enggano language. To achieve the purpose, this research was conducted  by using ethno-sociolinguistics design which was developed by Saville – Troike ( 1986). The data collecting was done by observation method by following the principles which was developed by Milroy ( 1987 ). The technique of collecting data was done by surveying, field observation, and indepth interview. The respondent of this research was taken by purposive random sampling, as the principles which was developed by William J. Samarin (1967) and Michael Stubbs (1983). Total respondent of the first year were 80 persons which was consisted of elementary students, teachers, headmasters, Enggano society and its leaders. The technique of analysis data was using discursive analysis technique. The findings of this research are : (1) Enggano society is bilingualism even they use multi languages. It means that they master Indonesian and other languages. The group of society which mater Enggano language besides  Indonesian are the leaders and Enggano native by the age of 40 years up; (2) Enggano society have negative attitude toward their own language. Enggano society have inferior attitude toward other cultures which come to the island. Role and function of Enggano language is gradually replaced by Indonesian. They choose Indonesian because it can guarantee the successful of their communication; (3) Enggano society feel that it is important to protect their own language because by this way the characteristic of the knowledge which is consisted in their culture in Enggano language can be embedded to the young generation.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat kami sajikan sehubungan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut.

Pertama, masyarakat pulau Enggano umumnya adalah dwibahasawan atau bahkan multi bahasawan. Bahasa pertama yang dikuasai oleh semua warga Enggano dan digunakan secara aktif adalah bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa kedua yang dikuasai bervariasi. Generasi muda (terutama siswa SD dan SMP) umumnya menguasai dan secara aktif menggunakan bahasa Melayu. Ironisnya, penguasaan bahasa Enggano mereka sangat minim. Hal serupa terjadi pula pada kelompok masyarakat terdidik yang menjadi responden penelitian ini, yaitu para guru. Hal ini terjadi karena para guru atau masyarakat terdidik lainnya (umumnya berprofesi PNS) rata-rata bukan warga asli Enggano. Kelompok masyarakat yang mampu berbahasa Enggano dan bahasa Indonesia sama baiknya adalah para tetua adat dan tokoh masyarakat yang umumnya telah berusia lanjut.

Kedua, penemuan ini menemukan gejala yaitu adanya sikap ‘inferiority’ pada masyarakat asli Enggano ketika berhadapan dengan dunia (masyarakat) luar. Masyarakat Enggano memiliki sikap yang negatif terhadap bahasa daerahnya. Seluruh responden menyatakan lebih menyukai menggunakan bahasa Indonesia untuk fungsi dan tujuan yang lebih luas (di luar komunikasi dalam keluarga). Masyarakat Enggano merasa tertinggal dalam banyak hal, misalnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, serta akses pada pusat-pusat kemajuan sangat sulit. Masyarakat Enggano adalah masyarakat miskin. Rata-rata tingkat pendidikannya pun sangat rendah. Penguasaan teknologi juga rendah. Enggano merupakan daerah yang terpencil, akses masuk dan ke luar Enggano sangat terbatas.

Ketiga, Perubahan pranata sosial pada masyarakat Enggano seperti uraian di atas pada satu sisi merupakan bukti keberhasilan berbagai bidang pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Akan tetapi pada sisi lain khasanah budaya lokal yang mengandung kearifan dan keharmonisan hubungan antara manusia  dengan alam sekitarnya, mengalami degradasi yang mengkhawatirkan. Secara empiris, penelitian ini menemukan fakta lapangan yang menunjukkan bahwa generasi muda Enggano tidak lagi mengenal nama dan mengetahui manfaat tetumbuhan hutan, hewan-hewan liar, dan biota laut yang ada di lingkungan mereka. Belum lagi punahnya produk budaya berupa tarian, nyanyian, dan ritual-ritual  adat yang terdapat di masyarakat.

Menyikapi kondisi ini, semua warga Enggano sepakat bahwa kondisi ini  tidak boleh berlangsung semakin parah. Mereka merasa penting untuk menyelamatkan bahasa Enggano dengan segala repertoarnya, namun tahu bagaimana caranya.

SARAN

Mempertimbangkan simpulan penelitian ini, peneliti merekomendasikan beberapa saran berikut ini.

  1. Setelah mendapatkan gambaran komprehensif kondisi bahasa Enggano dan masyarakat bahasanya, perlu upaya-upaya yang sistematis untuk mempertahankannya. Untuk itu, penelitian ini harus dilanjutkan untuk menghasilkan rencana teknis untuk merancang strategi penyelamatan bahasa Enggano.
  2. Penelitian lanjutan diperlukan untuk:
    1. mendapatkan model bahan ajar bahasa Indonesia berbasis lokal.
    2. mendapatkan model pengelolaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia berbasis lokal.
    3. memperoleh deskripsi komprehensif dampak pembelajaran bahasa Indonesia berbasis lokal terhadap pemeliharaan bahasa Enggano.

DAFTAR PUSTAKA

AECT. 1977. The Definition of Educational Technology, Association for Educational Communication and Technology.

Andrade, Carlos. 2000. “Zaparo’s lost secrets”, dalam Index April 2000.

Appel, Rene dan Pieter Muysken. 1988.  Language Contact and Bilingualism. Reprinted.  London: Edward Arnold.

Bachtiar, Harsja W. 1977. “Pengamatan sebagai suatu Metode Penelitian”, dalam Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat,  Jakarta: Gramedia.

Bloom, Benjamin S. 1956. Taxonomy of Educational Objectives, The Classification of Educational Goals, Handbook I Cognitive Domain. David McKay Company, Inc.:New York.

Cohen, Louis, Lawrence Manion & Keith Morrison (2001). Research methods in education. London: Routledge Falmer.

Collins, James T. 2003. “Language Death in Maluku “ dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 159. 2/3 2003 pp: 247-290.

Crystal, David. 1997. The Cambridge Encyclopedia of Language. Second edition. Ensiklopedia Budaya Sunda. (2001). Jakarta: Pustaka Jaya.

Delors, J. 1998. “Learning The Treasure Within”, Report to Unesco International Commission on Education for Twenty-First Century. Unesco.

Fasold, Ralph.  1987. The Sociolinguistics of Society. Reprinted.  Oxford: Basil Blackwell.

Fasold, Ralph. 1990. Sociolinguistics of Language. Oxford: Basil Blackwell.

Fishman, Joshua A. 1972a. The Sociology of Language. An Interdiciplinary Social Science Approach to Language in Society. California: Rowley.

Fishman, Joshua A.  1972b. Language in Sociocultural Change. California: Stanford University Press.

Grimes, Barbara E. 2002. “Kecenderungan Bahasa untuk Hidup atau Mati Secara Global (Global Language Viability): Sebab, Gejala, dan Pemulihan untuk Bahasa-Bahasa yang Terancam Punah”, dalam Bambang Kaswanti Purwo, PELBBA 15, Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atmajaya dan Kanisius.

Holmes, K. 1993. “Language Maintenance and Shift in Three New Zealand Speech Community” Applied Linguistics, Vol. 14 No. 1, 1993: 14.

Hudson, R. A.  1981. Sociolinguistics.  Reprinted.  Cambridge: Cambridge University Press.

Kantor Camat Enggano. 2005. Monografi Kecamatan Enggano. tidak terbit.

Kartodirdjo, Sartono. 1977. “Metode Penggunaan Bahan Dokumen”, dalam Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia,

Kähler, Hans. 1940, “Grammatischer Abriss des Enggano”, Zeitschrift für Eingeborenen-Sprachen, Jahrgang XXX 1939.

Kähler, Hans. 1975, “Texte von der Insel Enggano”, Veröffentlichungen des Seminars für Indonesische und Südseesprachen der Universität Hamburg Band 9.

Kähler, Hans. 1987. Enggano-Deutsches Wörterbuch. Berlin-Hamburg: Dietrich Reimer Verlag.

Lauder, Multamia M.T. 2004. “Bahasa Dunia Punah 1 Abad Lagi?” Pikiran Rakyat edisi 23 Oktober 2004.

Moleong, L.J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Remadja Rosda Karya.

Samarin, William. J. 1998. Ilmu Bahasa Lapangan. Yogyakarta: Kanisius.

Saville-Troike, Muriel.  1986. The Ethnography of Communication. Reprinted. Oxford: Basil Blackwell.

Singarimbun, Irawati.  1989. “Teknik Wawancara”, dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi (editor), Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES.

Singarimbun, Masri dan Tri Handayani. 1989.  ” Pembuatan Kuisioner”, dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi (editor), Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES.

Suzuki, Peter. 1958. Critical Survey of Studies on the Anthropology of Nias, Mentawei and Enggano. KITLV: The Hague Netherlands.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: