Apa sih ujian itu? (seri Ujian Nasional 2)

Ujian dalam terminologi awam diartikan sebagai proses yang harus dilalui seseorang sebelum yang bersangkutan “naik tingkat”. Dalam ranah akademis, ujian sering disejajarkan dengan istilah evaluasi. Sangat banyak ahli yang memaparkan gamblang apa yang dimaksud ujian (evaluasi), beberapa saya rujuk untuk menuliskan artikel ini.

Blaine R. Orthen mendefinisikan evaluasi adalah proses penilaian terhadap kualitas, efektifitas, proses, hasil, tujuan, atau kurikulum.[1] Sedangkan Jihad berpendapat bahwa evaluasi belajar merupakan sebuah penilaian untuk melihat kemajuan hasil belajar siswa, dalam rangka mengukur tingkat penguasaan mereka terhadap proses belajar dalam periode tertentu. [2]

Dengan demikian evaluasi belajar harus bertitik tolak pada apa yang telah dipelajari melalui interaksi peserta didik dengan gurunya selama batas waktu yang telah ditentukan.. Bila mengacu pada pandangan Benjamin S. Bloom, evaluasi belajar itu setidaknya meliputi tiga ranah (domain) yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi pada ketiga ranah kognitif ditujukan untuk melihat apakah terjadi penambahan muatan pengetahuan, perubahan sikap atau tingkah laku, serta keterampilan siswa dalam menguasai dan mengimplementasikan pengetahuannya.

Hamalik memberi pengertian yang lebih luas. Menurutnya, perlu dibedakan antara evaluasi (penilaian) dan measurement (pengukuran). Pengukuran adalah upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengukuran bersifat kuantitatif. Pengukuran bermaksud menentukan luas, dimensi, banyaknya, derajat atau kesanggupan suatu hal atau benda. Tugas pengukuran berhenti pada mengetahui ”berapa banyak pengetahuan yang telah dimiliki siswa” tanpa memperhatikan arti dan penafsiran mengenai banyaknya pengetahuan yang dimiliki.[3] Sedangkan penilaian (evaluasi) adalah serangkaian program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman yang diperoleh dari proses pendidikan. Dengan kata lain, penilaian adalah upaya untuk memantau sejauh mana siswa telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar dan pembelajaran.[4]

Berangkat dari pengertian di atas, maka sebuah evaluasi belajar memiliki persyaratan yaitu:[5] pertama memiliki validitas. Validitas artinya penilaian harus benar-benar tepat mengukur apa yang hendak diukur. Analoginya, barometer untuk mengukur tekanan udara dan tidak tepat bila digunakan untuk mengukur temperatur. Demikian pula suatu tes, dikatakan memiliki validitas tinggi bila tes tersebut benar-benar mengukur hal yang hendak diukur. Sebagai contoh tes intelegensi, validitasnya dapat diperkirakan dengan kriteria lain, yakni dengan ukuran yang diprakirakan oleh guru. Guru dapat memetakan kapasitas peserta didiknya. Apabila antara hasil tes dengan pendapat guru tak seberapa berbeda (korelasinya tinggi), maka dapat dinyatakan bahwa tes itu mempunyai validitas yang tinggi.

Kedua, mempunyai reliabilitas. Suatu alat evaluasi dikatakan memiliki reliabilitas, bila hasil ujinya menunjukkan ketetapan hasil. Dengan kata lain, orang yang akan dites itu akan mendapar skor yang sama bila dia dites kembali dengan alat uji yang sama di lain waktu.

Ketiga, objektivitas. Suatu alat evaluasi harus benar-benar mengukur apa yang diukur. Objektifitas sebuah tes yang tidak mempertimbangkan kesesuaian muatan materi dan pengalaman yang diperoleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung, berarti mengurangi standar objektivitas sebuah tes.

Keempat, efisiensi. Suatu alat evaluasi sedapat mungkin dipergunakan tanpa membuang waktu dan uang yang banyak. Ini tidak berarti, bahwa evaluasi yang memakan waktu, usaha dan uang sedikit dianggap alat evaluasi yang baik. Hal itu tergantung pada tujuan penggunaan alat evaluasi tersebut. Efisiensi dapat dicapai dengan cara:

a)      Si penilai mampu memilih alat yang tepat untuk tujuan tertentu

b)      Si penilai dapat mempertimbangkan perlu tidaknya mempergunakan beberapa macam alat penilai

c)      Si penilai hanya memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan tujuan yang sama

Kelima, kegunaan atau kepraktisan. Alat evaluasi harus berguna untuk memperoleh keterangan tentang hasil perkembangan yang diperoleh siswa setelah menjalani proses pembelajaran. Hasil evaluasi tersebut selanjutnya menjadi bahan bagi stakeholders (guru, kepala sekolah, orang tua, dan lingkungan) untuk memberikan bimbingan yang lebih baik.

Berangkat dari sejumlah pengertian dan pandangan para ahli di atas, maka evaluasi belajar harus memiliki satu kesatuan/kesepadanan antara apa yang dipelajari dan apa yang harus dilakukan peserta didik (what the student is “learning” and what he is doing should have a unity) menjelang evaluasi belajar. Dengan kata lain, apa yang dipelajari dengan apa yang akan dievaluasi harus gayut, tidak berdiri sendiri, dan tidak bertolak belakang satu sama lain.


[1]Blaine R. Orthen and James R. Sanders, Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines, New York & London: Longman, 1987, h. 22

[2]Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta: Multi Pressindo, 2008, h. 15

[3]Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2005, h. 156

[4]Ibid., h. 157

[5]Ibid., h. 157-159

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: